TRIBUNNEWS.COM – Israel mengeluarkan persetujuan awal untuk rencana perluasan batas kota Yerusalem, Rabu (24/11/2021).

Rencananya wilayah tersebut akan dibangun ribuan rumah pemukiman ilegal baru.

Perlu dicatat, permukiman Israel dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Mendengar hal ini, Palestina memohon agar Washington campur tangan dan menghentikan proyek tersebut.

Baca juga: Mantan PM Israel Netanyahu Diminta Kembalikan Rp 12,9 M dalam Bentuk Dana Legal ke Miliader AS

Baca juga: Israel akan Beri Izin Masuk bagi Umat Kristen Gaza untuk Liburan Natal

Atarot
Sebuah gambar menunjukkan mesin yang bekerja di landasan bekas bandara Atarot (Bandara Internasional Yerusalem), yang telah ditutup untuk lalu lintas sipil sejak pecahnya intifada (pemberontakan) Palestina kedua pada tahun 2000, dekat desa Qalandia antara kota Tepi Barat Ramallah dan Yerusalem timur yang dicaplok Israel pada 25 November 2021.

Melansir Al Jazeera,daerah yang terletak di antara Beit Hanina Palestina dan pos pemeriksaan militer Qalandiya itu memisahkan Yerusalem dari pusat kota Palestina Ramallah.

Dikenal oleh orang Israel sebagai Atarot, situs tersebut pernah menjadi rumah bagi bandara Qalandiya.

Situs itu ditutup setelah letusan Intifada kedua pada tahun 2000, dan ditetapkan dalam rencana Timur Tengah mantan Presiden AS Donald Trump sebagai zona pariwisata Palestina.

“Dalam rencana yang memerlukan persetujuan lebih lanjut itu, akan dibangun 3.000 rumah, dan akan menambah sekitar 6.000 lagi,” kata Wakil Wali kota Yerusalem Arieh King kepada Reuters.

Baca juga: Israel Isyaratkan Siap Tingkatkan Konfrontasi dengan Iran

Israel mengklaim seluruh kota Yerusalem sebagai ibu kotanya yang tak terpisahkan.

Pembicaraan damai yang disponsori AS antara kedua pihak terhenti pada 2014.





Sumber Link

By Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *